Sepenggal Kisah, kan Indah Pada Waktunya
Part.1
Ketika jemari ini memijit tombol hp, hurup demi hurup, memilih, dan merangkai kata.
Air mata ini tak tertahan, mengalir, menetes dari sudut kelopak mata.
Rasa sesak di dada, menahan tangis yang hendak membuncah. Peristiwa itu telah berlalu kemarin siang.
Keponakan saya mengikuti tes PPPK. Seharusnya tes nya hari Senin.
Berhubung sakit habis operasi, ( ada benjolan di perutnya) akhirnya tertunda.
Alhamdulillah, ada jadwal susulan, bagi yang tidak bisa mengikuti tes, pada waktu yang sudah ditentukan.
Mungkin karena berbagai halangan. Misalnya sakit. Yang penting di hari itu ada keterangan pemberitahuan.
Di hari Rabu tgl 15 Sept 2021, saya mendapat kabar dari kepsek.
Bahwa dari disdik menanyakan no WA keponakan saya. Berhubung kemarin waktu tes tidak hadir katanya.
Lalu sayapun memberikan no WA tsb. Karena penasaran, dan ingin tahu , lalu minta no WA orang yang menanyakan itu. Kemudian langsung saya telpon balik.
Hasil dari percakapan bahwa keponakan saya bisa mengikuti tes susulan.
Alhamdulillahnya Ketika di hari Senin pelaksanaan ujian tes itu kakak saya mengantarkan surat ijin sakit dari dokter ke pengawas tes ujian.
Jadi ada keterangan benar- benar sakit. Waktu itu masih belum bisa mengikuti tes. Karena baru menjalani pasca operasi, belum pulih benar.
Dengan rasa bahagia, setengah berlari menemui keponakan.
Lalu saya sampaikan bahwa tadi ada yang menghubunginya. Namun hp keponakan tidak aktif, katanya lagi.
Setelah saya menemuinya, rupanya sedang mengajar. Makanya tidak tahu ada yang menelpon.
Setelah saya tanya, hp nya memang dimatikan katanya. Hari itu dia melaksanakan tatap muka lagi, pasca operasi selama sepekan.
Walau begitu, tetap sebagian siswa masih ada yang pembelajaran daring.
Lalu keponakan membuka WA nya, tidak lama kemudian telpon pun ada lagi.
Dari pembicaraan tersebut, akhirnya keponakan bersedia untuk mengikuti tes P3K susulan pada hari Sabtu, 18 September 2021.
Hanya waktu dan ketentuan lainnya diminta sering- sering nge cek web site PPPK, katanya lagi.
Tiba di hari Jumat pagi, masih juga belum
ada kabar, siang begitupun. Hati ini sudah tak menentu, dengan seribu pertanyaan.
Bagaimana kalau sampai malam belum juga ada kepastian? 😭 Tiba- tiba ada kabar, tunggu sampai sore katanya.
Sebelum ada kejelasan keponakan belum melaksanakan swab antigen.
"Nanti saja malam juga bisa tinggal ke klinik. Yang penting ada kepastian dulu" katanya.
Tibalah di sore hari kurang lebih sekitar pkul 17.00 saya menerima kabar, bahwa sudah ada jadwal beserta lokasi, tempat dan waktunya.
Alhamdulillah Yaa...Allah, akhirnya tes susulanpun akan bisa diikuti.
Kami dari keluarga besar RD. Widura merasa senang. Nasihat, masukan pun datang silih berganti. Dari bibi2 nya.
Mulai dari persyaratan, pakaian, tak lupa kami ingatkan. Agar tidak ketinggalan. Dan semua nampaknya sudah siap.
Merasa sudah cukup memberikan nasihat segala macam, tibalah waktunya.
Saya tanyakan kembali lewat WA apakah sudah berangkat? Lalu ada jawaban, "sudah ada di SMKN 1 Subang. " plong". hati saya.
Dengan menggunakan kendaraan adik.
Betapa solidnya kami punya saudara. Saling mensupport dan memberi bantuan.
Saya yakin, orang tua ( almarhum/ almarhumah) akan sangat bahagia melihat anak- anaknya akur, saling berkasih sayang dengan saudara.
Semoga hal kebaikkan ini akan diteruskan oleh anak2 cucu kami. Aamiin YRA.
Masih dingatkan lagi, jangan lupa Salat Dhuhur dulu segerakan.
Begitulah kecintaan kami, perhatian kami, layaknya mengantarkan sang pejuang ke medan perang. 😀💪💪
Setelah itu hp saya matikan. Lalu bergegas pergi mengambil air wudhu. Siap- siap menjemput dzuhur.
Allah akan senang, melihat hamba-Nya yang menyegerakan Salatnya.
Setelah itu muncul foto keponakan didampingi kakaknya.
Meniti tangga menuju ruang lab komputer. Katanya dalam chat nya d WA grup.
Setelah itu detik- detik tespun akan segera dimulai.
Kami semua keluarga besar yang hanya bisa mengantarkanya dalam do'a.
Semoga berhasil melaksanakan tes dengan hasil yang membahagiakan. Lulus yang diharapkan.
Begitu besar harapan kami, keluarga besar.
Dzikir pun terus kami panjatkan. Dalam hitungan jam, menit, detikpun kami berpacu dalam do'a- doa.
Layaknya sebuah pemilu menunggu siapa pemenangnya. !🤭🙏
Astagfirullah, harapan kami begitu besar. Seolah saya tak sabar. Ingin kata lulus yang didengar.
Waktu pukul 17 sorepun tiba. Air mata ini masih menetes. Entah kenapa sedari siang berdoa selalu ada air mata menggenang.
Yaa... Robb, saya berharap air mata ini, air mata bahagia. Itu pinta saya dalam hati.
Lalu saya tanyakan lagi." Lulus? "Hanya itu ketikan saya di WA karena tak sabar menunggu jawaban.
Lalu dilihat keponakan sedang mengetik. Tapi lama, mengetiknya.😂
Hatipun sudah tak menentu.
Lalu jawabanpun muncul dengan kata- kata permohonan maaf.
Belum bisa memberikan hasil yang diharapkan. Nilainya masih kurang sedikit lagi katanya. 😭
Seandainya sudah mendapat afirmasi, mungkin lulus. Tapi apapun itu, kita jalani proses yang ada.
Lemaslah hati ini. Lalu saya pergi ke dapur untuk sekedar menghilangkan rasa tak karuan yang ada.
Akhirnya saya menghangatkan sayur, untuk makan nanti malam. Lalu makan uli yang dari tadi belum saya sentuh. 😂
Pikiran masih gak percaya. Lalu saya lihat komen dari kakak, adik bermunculan menguatkan, sambil memberikan apresiasi.
Lalu saya tata hati ini, walau saya tahu keponakan memang pintar.
Sebab saat kelulusan S1 nya di PGSD dengan predikat Cumlaude.
Ini hanya hal keberuntungan saja belum berpihak. Ucap saya berdamai dengan hati sendiri.
Suatu saat kalau sudah takdirnya, pasti tidak ada yang salah.
Kemudian sayapun menuliskan sebuah motivasi agar selalu semangat! Harapan masih ada.
InsyaAllah tes berikutnya akan lulus. Aamiin. Begitu yang saya tulis di WA grup.
Tidak lama kemudian disusul komen dari adik bungsu saya.
Sama intinya memberikan motivasi, dan semangat tak boleh kendur.
Terakhir lama sekali kakak saya, ayah dari keponakan belum muncul juga komennya.😂
Kemudian keponakan bilang ,"bapak belum komen, kelihatan dari raut wajahnya sebuah kekecewaan".
'Tapi sempat membelikan sepatu" katanya, sebelum pulang dari tes, karena waktu dioperasi di rumah sakit sepatunya hilang".😭
Komenpun bermunculan lagi dari kakak perempuan, dengan ucapan Alhamdulillah.
Lalu adik juga dalam komentarnya menyampaikan Alhamdulillah, nanti tes kedua bisa pakai sepatu baru". 😀🤭
Sayapun membaca komen itu jadi ikut tersenyum, bahagia.😀🙏
Adik bungsupun, memberikan komentarnya, bahwa kecewa pasti ada. Manusiawi. Namun jangan berlarut.
Semua akan ada hikmahnya. Tetap bersyukur, optimis.
Lalu sayapun memberikan komentar, karena masih ada harapan tes kedua. InsyaAllah lulus, Aamiin...YRA.
Tidak lama kemudian muncul komentar dari kakak, (ayah dari keponakan) dalam bahasa sunda. (karek kumpul pangacian)😀🤭🤭🙏
"Nembe spor jantung" saurna. "urang mah teu daya, teu upaya, anging Allah. Lahaula walaquataIla billah." Begitu komentarnya.
Jalan panjang membentang masih menunggu, bagi orang- orang yang mau berjuang dan berusaha.
Hikmah yang dapat dipetik dari ini semua:
1. Bersyukur masih diberi kesempatan sehat, untuk ikut tes susulan.
2. Bersyukur atas hasil yang diperoleh, walau belum maksimal.
3. Bersabar menerima ketentuan dari Allah. Karena ketentuan Allah tidak ada yang salah.
4. Berusaha, belajar, dan berdo'a tiada putus.
Yakin harapan itu harus selalu ada. Semua tidak ada yang luput dari pandangan Allah.
Hanya kita sebagai hamba- Nya, terkadang tidak sabar.
Baik menurut kita belum tentu baik menurut pandangan Allah.
Astagfirullah. Maafkan hamba- Mu ini ya ...Robb.
Berikan kebaikkan yang terbaik kepada keponakan, yang akan menghadapi tes lagi, semoga lulus.
Berikan kebaikkan yang terbaik untuk mantu perempuan saya yang akan ikut tes PNS juga. Semoga lulus.
Berikan kebaikkan yang terbaik buat keponakan2 yang lainnya, sukses selalu dimanapun berada.
Berikan kebaikkan yang terbaik untuk anak2 saya, dimana pun bekerja.
Do'a terbaik untuk semua keluarga besar Semoga kita semua sukses di dunia hingga akhirat kelak. Aamiin YRA.😘😘💪💪🙏🙏
Sbg, 21.35.
Ahad, 19 Sept 21.
Part 2.
Alhamdulillah, sekarang tanggal 8 Oktober, 2021. Saya mendengar kabar dari keponakan, langsung.
Bahwa ia lulus tes P3 K nya, dan mengisi pormasi. Setelah ada penurunan passing grade.
Berhubung di SD kami hanya 1 pormasi. Sedangkan yang ikut tes ada 4 orang.
Alhamdulillah Yaa Roob. Ini sungguh karunia-Mu yang sangat besar.
Saya seakan tak percaya. Namun ini benar- benar nyata.
Dengan terus memuji kebesaran - Mu, tak terasa air mata ini pun jatuh untuk kesekian kalinya.
Kami keluarga besar Rd. Widura, merasa senang, bahagia, tapi ada sedihnya.
Karena keponakanku yang satu lagi, juga mantuku belum lulus.
Walau yang lulus dari keluarga besar kami baru 1 orang.
Benar saja sepenggal kisah ini menjadi indah pada waktunya.
Apabila kita yakin, Bahwa ketentuan ( qodarulloh) Allah pasti yang terbaik.
Semoga tes tahap 2, keponakan, dan mantu saya bisa lulus semuanya.
Begitupun guru honorer yang se- SD yang belum lolos tahap 1, semoga bisa lulus di tahap berikutnya.
Aamiin Yaa...Mujibasaailin
Subang, 8 Oktober 2021.
terharu dan tetap semangattt...
BalasHapusTerima kasih. Aamiin
HapusAhh jadi senyum-senyum sendiri baca cerita ini ����
BalasHapusAlhamdulillah rezeki apapun harus disyukuri
Iya.lucu ya. 🤭 😍. Benar sekali. Terima kasih ya...sudah mampir.🙏🙏
Hapusbiarlah menjadi sejarah dlm hidup kami.
Selamat smg sukses Semuanya. Ayo menulis, menulis dan menulis jgn lupa byk.membaca.
BalasHapusTerima kasih Pa...supportnya🤭🙏
BalasHapus