Gelombang : 19
Nara Sumber : Sudomo, S.Pt
Moderator : Aam Nurhasanah, S.Pd
Resume : 13
Nara sumber pada tema Kiat Menulis Cerita Fiksi, oleh Bapak Sudomo,S.Pt Moderator yang sangat baik, muda, pintar dan lincah, yaitu Ibu Aam Nurhasanah.
Bapak Sudomo, S.Pt. Pria kelahiran Sukoharjo, 27 Maret 1975 yang juga merupakan Guru IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat sekaligus salah satu alumni jebolan gelombang 16 yang telah sukses menulis buku resume dengan gaya cerpen atau gaya fiksi.
Adapun karya yang telah berhasil dipublikasikannya sebanyak 10 karya fiksi dan 2 karya non fiksi. Selain itu beliau memiliki segudang prestasi di bidang kepenulisan.
Prestasi yang baru saja diraihnya adalah menjadi 20 terbaik kategori Blog PTK dalam acara Proyek Akhir Nyata Kita Melawan Kekerasan Berbasis Gender yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2020.
Alasan yang mendasari pentingnya menulis fiksi diantaranya :
- Teks Literasi Fiksi merupakan salah satu materi dalam tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Hal ini menuntut seorang guru harus bisa menulis fiksi agar mudah menyediakan soal latihan bagi para peserta didik dan bermanfaat dalam pengembangan profesi guru.
- Syarat menulis fiksi, yaitu memiliki komitemen, riset, membaca karya fiksi, mempelajari KBBI dan PUEBI, memahami dasar menulis fiksi, dan menjaga konsistensi menulis fiksi.
- Bentuk-bentuk cerita fiksi, yaitu fiksimini, flash fiction, pentigraf, cerpen, prosa, novela, dan novel. Perbedaannya terletak pada kompleksitas konflik cerita. Selain itu ada juga batasan kata dan paragraf.
- Unsur-unsur pembentuk cerita fiksi, yaitu tema, premis, alur/plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Dari sekian unsur ada premis yang mungkin baru bagi kita. Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Contoh premis: Seorang anak memiliki kemampuan sihir bersekolah di sekolah sihir yang harus melawan penyihir jahat demi kedamaian bumi. Dari contoh tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut, karakter: anak, tujuan tokoh: kedamaian bumi, rintangan: melawan penyihir jahat, resolusi: belajar sihir.
Kisah nyata sangat bisa dijadikan cerita fiksi. Istilah kerennya based on true story. Ini akan membuat cerita fiksi lebih dekat dengan pembacanya.
Sedangkan cara memanjangkan cerita fiksi salah satunya adalah menggunakan teknik show don't tell seperti yang saya jelaskan tadi. Kalau untuk jenis novel panjang, tentu harus disiapkan outline/kerangka dengan beberapa konflik yang baik.
Membuat cerita hidup bisa dengan cara menguatkan karakter tokoh dan membangun suasana yang baik. Sedangkan akhir cerita yang baik adalah yang menjawab konflik cerita. Berlaku juga untuk akhir yang menggantung. Agar disukai pembaca bisa dibuat menggantung atau plot twist.
Aturan tanda baca sama seperti pada umumnya, yaitu mengacu pada PUEBI. Sedangkan Tanda kutip dialog pada kalimat tanya langsung. Dialog tanpa tanda kutip bisa pada narasi paragraf. Contoh: Saya akan ke sana, seingatku aku pernah mengatakan itu.
Fiksimini adalah fiksi sangat singkat biasanya beberapa kata saja. Flash fiction adalah cerita kilat, biasanya memakai batas jumlah kata khusus, misalnya 50 kata, 100 kata, dll. Pentigraf adalah cerpen tiga paragraf.
Di akhir pertemuan beliau memberi semangat dengan kalimat motivasi:
"Menulislah selagi sempat, Jika tidak juga sempat, maka Sempatkanlah"
"Belajar terus, seterusnya Pembelajar"
Semoga saja ilmu yang didapat ini, penulis bisa membuat buku fiksi. InsyaAllah. Aamiin....

Komentar
Posting Komentar