Bagaimana menjadi Penulis
Assalamualaikum,
Saya termasuk salah seorang guru yang sangat bahagia karena malam hari ini tanggal 5 April akan menerima materi yang sangat berharga sekali.
Pelatihan Belajar menulis di PGRI. Saya termasuk pemula yang baru ikut bergabung di gelombang yang ke- 18.
Melihat, menyimak, apa yang disampaikan oleh Ibu Nara Sumber yang bernama Dra. Sri Sugiastuti M.Pd atau yang lebih akrab dengan panggilan Ibu Kanjeng.
Dengan suara, intonasi, dan gaya bicaranya yang sangat menarik, lembut dan enak didengar. Lahir di Semarang, 8 April 1961. Beliau sebagai kepala SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta.
Dibantu oleh moderator yaitu Bu Aam Nurhasanah yang masih muda, berprestasi dan sangat ramah.
Baiklah saya akan mencoba meresume apa yang menjadi bahasan materi pada malam hari ini, yang beliau sampaikan.
" Bagaimana Menjadi Penulis"
Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau yang lebih akrabnya dengan panggilan Ibu Kanjeng. Beliau bergerak dibidang kepenulisan di saat usianya yang tidak lagi muda.
Namun begitu kecintaannya membaca buku, sudah dimulainya sejak SD, remaja, dewasa, hingga menginjak ke dunia kampus, dan menjadi guru.
Hobi menulisnya, baru muncul lagi menjelang diusia 50 tahun, saat kuliah S2. Sejak itu secara otodidak beliau belajar kembali.
Mengupgrade diri, mengunjungi toko- toko buku, banyak membaca, bergabung dalam beberapa komunitas menulis, hingga mengenal dunia medsos, dan aktif menulis di blog.
Hingga akhirnya memiliki dunia literasi Diantaranya menjadi :
1. Anggota blogger,
2. Menjadi anggota perpustakaan dan kearsipan di Solo,
3. Menjadi komunitas Solo membaca, mengupgrade diri dari tahun 2010 hingga sekarang. Mengikuti lomba blog tahun 2010 juara ke-3.
Dan segudang prestasi lainnya dalam berbagai bidang kepenulisan.
Menurut beliau ketika menulis kita harus memiliki semangat dan mau belajar.
Mungkin diawal, apalagi sebagai pemula ketika mau menulis, sudah bingung lebih dahulu.
Merasa tidak punya ide, tidak ada yang hebat untuk ditulis, tidak ada yang menarik untuk disampaikan ke pembaca dan masih banyak lagi.
Menurut beliau tulis saja apa yang terlintas dipikiran. Ketika kita peka terhadap lingkungan, keadaan di sekitar kita, maka itu bisa dijadikan ide sebuah tulisan.
Berkaca dari apa yang beliau sampaikan, sungguh sangat membanggakan. Hal ini seyogyanya menjadi pelecut semangat bagi kita semua, apalagi bagi yang masih muda- muda.
Sebab untuk menjadi seorang penulis bukan hanya bermodalkan mau saja tidak cukup, tapi harus mau dan mampu.
Mampu mengaupgrade diri. Berliterasi sepanjang hayat. Begitu yang Ibu Kanjeng utarakan.
Hal ini sungguh sangat ber inibeda dengan yang saya alami. Saya pernah di tahun 2011, coba- coba mengirimkan tulisan, cerpen, atau puisi, ke mingguan pelajar, atau ke Majalah suara daerah, Bhineka Karya.
Entah dengan berbagai macam alasan akhirnya tidak berlanjut. Berliterasi pun jarang dilakukan. Sejak itu vacum, kurang lebih sembilan tahun. Waktu yang cukup lama, namun terasa amat singkat.
Mulai tertarik lagi menulis setelah bergabung di grup Lisangbihwa tahun 2019, dan bergabung di Komunitas Pengajar Penulis JawaBarat ( KPPJB). Berkawan dengan teman- teman yang sungguh luar biasa.
Seperti pepatah mengatakan, kita bergaul dengan tukang minyak wangi, maka kita akan kecipratan bau harumnya. Dengan siapa kita bergaul, dan itulah sedikit banyak yang akan mempengaruhi siapa diri kita.
Hingga akhirnya saya mempunyai Buku Antologi yang berjudul Jejak Langkah Guru Subang, Buku Saihu Lisangbihwa, dan di KPPJB, Buku Antologi Akroteka ( masih proses cetak).
Menurut Ibu Kanjeng, mulailah menulis apa yang kita sukai, apa yang dekat dengan keseharian kita, atau keadaan kita.
Hal ini saya alami sekarang. Saya menulis buku puisi terinspirasi dari anak saya sendiri. Melihat keseharian yang dialami sehari- hari. Ia dalam ghirah ibadah nya tak pernah kendor.
Setiap sholat lima waktu selalu berjamaah di masjid. Meskipun hujan. Itu ia lakukan sejak kelas 2 SD, hingga sekarang duduk di kelas lima SD. Semoga Allah istiqomahkan .Aamiin YRA.
Sehingga buku itu bisa terselesaikan. Karena benar- benar merupakan pengalaman yang saya alami, saya senangi. Jadi tidak terlalu sulit untuk menuangkannya ke dalam tulisan.
Namun ada juga tulisan yang tidak selesai atau belum terselesaikan juga Karena saya merasa kurang pas dijenis tulisan itu. Atau karena kurangnya mau berliterasi.
Ternyata memang sangat relevan sekali, mau menulis artinya harus mau juga berliterasi atau mau membaca.
Mau seperti apakah tulisan kita? Mau seperti apa tulisan kita tergantung irama yang kita inginkan.
Menulis itu bagaikan dirigen mengikuti irama lagu. Begitu kata Bu Kanjeng.
Menulis buku itu salah satunya merupakan suatu langkah perjuangan yang menyenangkan. Seyogyanya seperti itu sesuai dengan yang beliau sampaikan.
Sehingga bisa mencapai puncak karier, totalitas yang bisa dibanggakan. Dan lebih penting lagi ada kepuasan tersendiri.
Apalagi tulisan itu bisa dinikmati oleh para pembacanya. Bisa bermamfaat bagi orang lain.
Materi yang terakhir beliau sampaikan mengenai outlane atau daftar isi.
Outlane atau daftar isi adalah bagian yang akan kita tulis berupa sub judul atau bab 1 sampai penutup.
Cara membuat outlane ada 3.
1. Menentukan tofiknya.
2. Tulisan itu bisa bersifat reflektif, persuasif, maupun informatif.
Reflektif ( kejadian yang kita refleksikan)
Persuasif ( mempengaruhi pembaca)
Informatif ( berangkat dari penelitian )
Atau kombinasi dari ketiganya.
3. Harus fokus. Tetap pada tema yang sudah ditentukan. Supaya buku bisa selesai.
Demikianlah paparan yang telah Ibu Kanjeng sampaikan. Bagi saya, bagaikan cas. Memberi energi baru lagi.
Sekaligus refleksi buat saya. Ternyata masih banyak yang harus saya pelajari.
Khususnya dalam hal literasi. Yang masih saya rasakan sangat minim dan sangat kurang sekali.
Disisa usia saya yang sudah tidak muda lagi, namun ada sosok Ibu kanjeng yang menjadi inspirasi bagi saya khususnya, umumnya bagi rekan- rekan semuanya.
Walau beliau sebentar lagi purnabakti, semangat menulis dan berbagi ilmu serta pengalamannya, sangat patut kita contoh dan teladani.
Rasanya tidak ada kata terlambat. Untuk belajar bagaimana menjadi penulis. Asal ada kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat.
Demikian resume yang dapat saya sampaikan. Terima kasih.
Wassalam.
Tanggal Pertemuan, 5 April 2021
Resume ke : 1
Tema :Kiat jadi Penulis
Nara Sumber : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd
Gelombang. : 18.

Resume yang bagus ibu...
BalasHapusInsyaAllah. Terima kasih supportnya🙏🙏🙏
BalasHapusResumenya mantap...semangat Bu!
BalasHapusTerima kasih shbt hebat supportnya😘😘🙏🙏
HapusMantap, resumenya Bu Nur, bernas, mudah dipahami🙂👍
BalasHapusTerima kasih Ibu shbt hebat ats supportnya😘😘🙏🙏
BalasHapusMantul Bu..semangat terus menulis 💪😘
BalasHapusKeren resumenya 👍🏻
BalasHapusKeren ya bun
BalasHapusTerima kasih ats supportnya Bu...🙏🙏😍😍
HapusWah lengkap dan sempurna tulisannya, good job 👍🙏
BalasHapusBagus Ibu resumenya, dikemas dengan bahasa yang menarik
BalasHapus