Tidak Jadi Juri Cerpen karena Sakit
Sejak 3 bulan terakhir ini saya disibukkan dengan menulis. Satu bulan Februari mengikuti lomba menulis di blog.
Bulan Maret saya fokus buat buku tunggal dengan harapan bisa mengikuti Parasamya Nugraha nanti di bulan September. InsyaAllah. Aamiin YRA
Bulan April, ikut Pelatihan Menulis di PGRI kebetulan saya masuk di gelombang 18 sekarang ini.
Saya mengikuti Pelatihan Menulis di PGRI ini yang diadakan selama satu bulan. Dalam setiap minggu nya ada 3 hari (Senin, Rabu, Jumat) menerima materi, sekaligus peserta membuat resume.
Dari materi berupa paparan oleh para nara sumber, sebenarnya tidak berat, karena waktunya sangat fleksibel sekali.
Namun kalau saya pribadi, jika tidak disiplin dengan waktu, pasti akan tercecer tugas di mana- mana. Akhirnya menumpuk. Kalau sudah begitu, malas yang ada.
Apalagi waktunya berbarengan dengan bulan Ramadhan juga, di mana bulan Ramadhan ini sarat dengan berbagai amalan yang harus ditingkatkan. Jadi harus pintar- pintar membagi waktu.
Rupanya Allah sangat sayang kepada saya. Mengapa? Karena sebelas bulan kebelakang saya begitu enak makan.
Makan sekalipun dengan gejos jengkol, pasti selalu enak di lidah.😀🤭 Minum kopi sehari 3 kali tidak ada masalah.🤭
Sejak awal Ramadhan saya tidak minum kopi. Entah seminggu kemudian malam harinya ingin melembur menulis. Saya sempatkan minum kopi dulu.
Selain tugas pribadi, saya juga sempatkan untuk mengedit cerpen anak yang akan ikut lomba di FL2N.
Sejak itulah keesokkan harinya tenggorokan terasa sakit, batuk ngekeh tidak berhenti. Badan lemas, perut terasa mual, kepala puyeng sekali. Seakan mau jatuh saja kalau dipaksa berdiri.
Aku mencoba beli obat warung gak mempan. Lalu dua hari kemudian Kusempakan pergi berobat ke klinik diantar suami.
Setelah berobat dirasa tidak ada perubahan. Padahal saya punya tugas untuk menjadi juri di lomba cerpen.
Dengan berat hati akhirnya saya memutuskan untuk minta ijin, supaya diperkenankan tidak ikut menjadi juri, karena dirasa masih terasa sakit.
Alhamdulillah ketua PKG kecamatan mengabulkan permintaan saya. Kepada rekan juri pun saya memberi kabar. Supaya tidak kaget dan tidak bertanya - tanya kenapa saya tidak hadir, nanti pada waktu penjurian.
Dua hari setelah lomba FL2N, saya masih belum sembuh juga. Obat yang diminum dirasa tidak ada perubahan.
Lalu kuputuskan untuk tidak minum obat itu lagi. Saya ingin sekali cepat sembuh, puasa sudah 4 hari bocor. Pas ada keinginan ingin berobat lagi, tanpa BPJS, biar cepat sembuhnya pikirku.
Kebetulannya adikku, menanyakan kabar, dan menawarkan mau mengantar kalau mau berobat. Akhirnya sayapun menerima tawaran adik untuk diantar berobat lagi.
Alhamdulillah sejak itu yang namaya puyeng sekali, sampai kepengen jatuh langsung hilang. Mandipun tidak pakai air hangat lagi. Kini batuknya sudah membaik.
Sekarang sudah berkurang sakitnya, walau belum 100% sembuh.
Saya ambil hikmat jadikan pelajaran.
1. Betapa Allah sayang nya pada saya, sebelas bulan ke belakang begitu banyaknya nikmat kesehatan. Yang mungkin saya dengan tidak sadar kurang mensyukurinya.
2. Menyadari usia sudah tidak muda lagi, jadi makanan yang dikonsumsi harus lebih diperhatikan lagi.
3. Lepas tidak jadi juri di cerpen, anak yang saya bimbing katanya juara ke -2. Prediksi saya tidak jauh. Kalau tidak ke 1 pasti ke 2.
Semoga saja yang juara ke- 1 bisa membawa nama baik kecamatan. Dan di kabupaten bisa bersaing dengan kecamatan yang lain. Membawa hasil yang diharapkan.
Pengalaman saya yang sudah- sudah, kalau anak didik yang saya bimbing, dikecamatan juara ke -1, artinya saya harus memperbaiki lagi, dalam membimbing anak. Tidak cukup puas dengan hasil yang sudah ada. Pasti akan ada perubahan, perbaikkan.
Dipersiapkan lagi lebih maksimal. Sehingga Alhamdulillah hasil nya tidak terlalu mengecewakan. Kalau tidak juara 3, minimal harapan satu masih bisa diraih.
Itulah sekelumit pengalaman yang saya alami, baru kali ini tidak jadi juri karena sakit. Kecuali tidak jadi juri yang benar- benar saya tidak mampu.
Dengan adanya sakit, satu tidak jadi juri cerpen. Kedua saya ketinggalan menulis resume dari 4 Nara Sumber.
Sekarang saja saya harus mengejar membuat sebanyak 4 buah resume. Karena yang sudah dikirim baru 5. Semenjak sakit ketinggalan 4 resume.
Apakah saya masih bisa mengejarnya? Atau mengalah karena mental penulis belum teruji? Sedih rasanya kalau harus berhenti di tengah jalan.
Semoga saja saya kembali pulih seperti sedia kala.
Maafkan hamba ya Robb, begitu lemahnya hamba- Mu ini. Tanpa pertolongan dari-Mu, hamba tak ada arti apa- apa.
Salam : Blogger Persahabatan.
Komentar
Posting Komentar