Bangga Menjadi Guru
Saya berasal dari keluarga guru. Ayah bernama RD. Widura ( almarhum ). Seorang pensiunan Penilik TK/ SD. Ibu bernama Didih Suhariyah ( almarhumah ). Pensiunan Kepala Sekolah SDN. Langensari.
Kami 8 bersaudara. Sekarang tinggal 2 kakak dan 2 adik. Kakak laki- laki sudah purnabakti dua tahun yang lalu. Pensiunan Kepala Sekolah SMPN 1 Cipeundeuy.
Kakak perempuan, guru di SDN Karyamekar Cipeundeuy. Adik, guru di SDN Dayabakti kecamatan Kalijati. Sedangkan yang bungsu sebagai kasubag TU di SMAN 1 Cipeundeuy.
Waktu kecil saya senang bermain. Apalagi kalau bermain sekolah- sekolahan. Senang jika berperan menjadi guru. Teman- teman menjadi muridnya.
Suatu hari pernah kejadian. Tempatnya di balai RW. Di sana ada papan tulis yang menggantung di tembok. Saya dekatkan kursi ke papan tulis.
Lalu naik ke kursi. Sampai kaki harus dijinjit karena ketinggian papan tulisnya. Yang akhirnya debu kapur tulis itupun masuk ke mata.
Guru kecil inipun berlari menuju rumah sambil menangis. Ayah segera mengobati dengan mengambil ranting pohon randu. Setelah dikupas ujungnya kemudian diruncingkan. Agar airnya segera keluar.
Dengan kepala tengadah, mata dibuka akhirnya satu,dua tetes air randupun jatuh di kelopak mata. Terasa sedikit perih, dingin, namun terasa enak. Segar dan cerah kembali mata ini.
Setelah peristiwa itu tidak membuat saya kapok. Saya masih suka bermain sekolah- sekolahan. Mungkin karena sudah terbiasa melihat keseharian ayah dan ibu menjadi guru.
Sejak kecil sudah bercita- cita menjadi guru. Tamat dari SMPN1 Kalijati, melanjutkan ke SPGN 117 Subang. Ketika dinyatakan di terima di sekolah keguruan betapa senangnya.
Ayah sudah menyambut di depan rumah. Dengan mata berkaca- kaca ayah memeluk saya. Tidak lama kemudian ibu datang dari dalam rumah. Kami berpelukan. Ada tangis kebahagiaan.
Pada tahun 1988 Saya diangkat menjadi PNS. Rasa bahagia kembali menyelimuti keluarga besar kami. Pertama kali saya bertugas di SDN Ligarsari desa Lengkong, kecamatan Cipeundeuy.
Ketika menjelang hari PGRI, sekolah kami selalu ikut berpartisipasi. Baik kegiatan siswa maupun guru. Saya pernah menjadi juara 3 terbaik dalam pembuatan RPP.
Begitupun dalam pembimbingan siswa, meraih juara 3 dalam bidang prakarya. Ikut mengantarkan siswa dalam lomba cerdas- cermat tingkat SD ke TVRI Bandung.
Waktu itu seluruh guru di SD ikut semua. Ditambah para kepala sekolah satu kecamatan. Termasuk para pengawas dan Bapak Kepala Dinas.
Satu bis kami berangkat dari kecamatan. Tidak meraih juara, hanya mendapat ranking kedua di babak penyisihan.
Enam tahun kemudian Saya mutasi ke SD Wantilan. Wantilan yang sekaligus menjadi tempat kelahiran Saya. Tempat awal mula ayah menjadi kepala sekolah, dan ibu salah satu gurunya.
Apabila samen atau kenaikkan kelas tiba selalu ramai dan meriah. Dengan kreativitas guru- guru dapat menampilkan berbagai kesenian.
Diantaranya ada kesenian gondang, calung, reog, drama, bahkan sampai ada wayang golek.
Di sore harinya selalu diadakan dulu tasyakuran di sekolah dengan membuat tu mpengan.
Di kala akhir pekan, malam harinya suka diadakan kegiatan seperti: permainan bulu tangkis dan tenis meja. Dengan lampu petromak sebagai alat penerangnya.
Sayapun bisa bermain tenis meja, catur, bola voli itu karena kebiasaan sejak di sekolah dasar. Hingga sampai sekarang masih ingat dan masih bisa bermain.
Setelah menjadi guru, pada kegiatan PGRI seperti bola voli, saya ikut tim inti, kalau ditingkat kecamatan, kurang lebih 10 periode juara ke-1.
Pernah ikut lomba Mengajar Kelas Atas juara 1 tingkat kecamatan. Ikut lomba PTK juara 1 tingkat kecamatan.
Namun utuk ketingkat kabupaten belum sempat meraih juara. Walaupun begitu saya tetap merasa bangga. Saya selalu bersyukur.
Di sekolah inilah saya banyak menggali potensi diri dalam masa mengabdi sebagai guru. Teringat halaman sekolah yang tertata rapi. Di samping sekolah berjejer pohon sirsak yang selalu lebat buahnya.
Begitupun di belakang sekolah ada pohon pisang, pohon kecapi, bahkan pohon sawo yang sudah puluhan tahun sampai sekarang masih ada.
Kami guru- guru SD Wantilan di masa sekarang masih bisa menikmati hasil tanaman sawo itu.
Yaa...Robb, sekarang para pendiri sekolah ini sudah tutup usia. Namun ilmu dan jasanya masih kami rasakan. Semoga ini menjadi ladang amal jariah yang tiada putus bagi mereka. Aamiin YRA.
Sekarang Saya salah satu penerusnya. Mengajar di SD Wantilan. Seyogyanya guru mendidik, mengajar, menginspirasi, menggerakkan, melakukan pembimbingan ketika menghadapi lomba- lomba, atau kegiatan lainnya.
Dalam pembimbingan siswa, saya mengantarkan siswa berprestasi mendapat juara harapan 3 tingkat kabupaten. Juara 2 dan 3 di bidang mengarang Bahasa Indonesia tingkat kabupaten.
Juara 2 mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat kabupaten. Yang pada akhirnya SD Wantilanlah yang ditunjuk untuk mewakili ke tingkat provinsi. Walau tidak mendapat juara.
Juara 3 lomba bercerita daerah tingkat kabupaten. Harapan 1 Cipta Baca Puisi tingkat kabupaten. Juara harapan 1 Pidato Bahasa Indonesia tingkat kabupaten.Juara 3 pidato Bahasa Indonesia tingkat kabupaten.
Sayapun pernah ikut menjadi Instruktur Nasional Kurikulum 13 yang disebut dengan IN Kurtilas.
Saya bangga dengan guru. Guru yang bekerja dengan setulus hati. Penuh keteladanan, kejujuran, kekeluargaan dan integritas yang tinggi.
Dari tangan- tangan guru akan lahir generasi - generasi penerus bangsa.
Guru seyogyanya juga pandai menulis. Sebab menulis merupakan salah satu kompetensi yang perlu dikuasai. Menulis memang perlu kemampuan, tapi kemampuan bukan faktor utama.
Kemampuan bisa diasah melalui proses berlatih, mau belajar, mau menyisihkan waktu, mau membaca dan mau bertanya kepada orang lain yang lebih paham. Mencoba lagi ketika gagal dan tidak mengenal putus asa.
Sekarang ini banyak sekali komunitas- komunitas kepenulisan. Kita bisa banyak belajar. Sayapun mencoba ikut dalam komunitas Iisangbihwa ( literasi Subang Bihari Berwibawa), dan komunitas KPPJB pusat maupun regeonal.
Saya juga aktif di komunitas PGRI menulis yang dipimpin oleh Bapak Wiayakusumah, MPd. Di PGRI menulis Saya ikut lomba menulis di Blog selama 28 hari. Namun belum juga mendapat juara. Tapi Saya tetap bahagia dan selalu bersyukur.
Sebagai seorang guru Saya sadar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di samping itu perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan informasi begitu cepat.
Membuatnya terus memperbaruhi (update). Guru seyogyanya selalu mengupgrade diri dengan banyak membaca.
Begitupun siswa harus membiasakan diri membaca. Membiasakan kegiatan membaca menjadi budaya. Sehingga tercipta sebuah karakter.
Sebagian masih malas untuk membaca. Oleh karena itu Saya mencoba menerapkan pembiasaan membaca.
Langkah Saya dalam menerapkan minat baca adalah dengan gerakan literasi sekolah. Di sekolah dasar yang pertama adalah pembiasaan.
Bersumber dari Permendikbud No 23 tahun 2015, pembiasaan literasi ini diawali dengan penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca.
Kegiatan pelaksanaan pembiasaan gerakan literasi di sekolah dasar negeri Wantilan baru sampai pada tahap pembiasaan. Baik kelas rendah maupun kelas tinggi.
Pembiasaan membaca secara bersama- sama mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 pada setiap hari Rabu dalam satu pekan. Setiap siswa diberi satu buku cerita.
Pada pekan berikutnya siswa sudah siap berada di lapangan sekolah pada pukul 7 pagi. Saya beserta rekan guru, penjaga sekolah, dibantu oleh beberapa siswa kelas 6.
Sudah siap 15 menit sebelumnya, untuk mempersiapkan segala keperluan. Ada yang opsih (operasi bersih), menggelar terpal dan karpet, serta memasang sound system.
Sayapun mulai memanggil siswa- siswi untuk segera menuju lapangan sekolah. Walau memakai pengeras suara namun tidak cukup dengan satu kali memanggil. Harus banyak bersabar.
Selalu mengingatkan walaupun beberapa siswa sudah ada di lapang dengan memegang bukunya.
Setelah semua siswa berkumpul saya menyapa mereka dengan yel- yel literasi yang Saya sudah siapkan. Dengan mengacungkan jari jempol dan telunjuk membentuk huruf " L" ( salam literasi).
Beginilah yel- yelnya:
Guru : Salam literasi!
Siswa : Salam literasi! ( Secara bersama- sama)
Guru : Membaca?
Siswa : Siap! ( Bersama - sama)
Guru : Membaca?
Siswa : Mudah! ( Bersama- sama)
Guru : Membaca?
Siswa : Menyenangkan ( bersama- sama)
Siswa : bertepuk tangan dengan meriah.
Setelah ice breaking, baru siswa membaca buku secara bersama - sama. Selesai membaca selama 15 menit, dipersilakan bagi siswa- siswi yang mau ke depan untuk mempresentasikan apa yang dibacanya.
Siswa tidak mau ke depan, dengan alasan malu, takut tidak bisa, takut salah, takut ditertawakan. Paling yang berani 1, 2 atau 3 orang yang bersedia mengacungkan tangan untuk maju ke depan.
Dalam waktu satu pekan itu, selain hari Rabu (pelaksanaan literasi sekolah ) jarang sekali Saya melihat siswa yang membaca buku secara mandiri.
Dalam arti kemauan sendiri. Pembiasaan literasi kelas juga masih belum terlihat dampaknya. Harus terus diberikan pemahaman.
Apalagi hampir dua tahun sekarang ini kita menghadapi yang namanya pandemi covid- 19. Yang akhirnya literasi sekolah yang sebagaimana biasanya dilakukan menjadi terganggu.
Di sinilah peran guru, kepala sekolah ( stokholder) seyogyanya berperan langsung. Memberi contoh teladan, apalagi ditingkat sekolah dasar.
Anak- anak sulit untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai suatu pembiasaan tanpa adanya contoh pigur keteladanan.
Oleh karena itu marilah bersama- sama bersinergi, memberikan keteladanan kepada siswa- siswi bila perlu duduk bersama- sama. Membaca bersama- sama.
Karena guru sebagai ujung tombak pendidikan terutama dalam penanaman karakter dan literasi.
Maka berbanggalah menjadi guru dengan: 1. Melakukan pembimbingan dengan penuh tanggung jawab.
2. Memberikan keteladanan dengan senang membaca dan menulis
3. Menguasai Informatika dan Teknologi
4. Membuat banyak karya. Salah satunya menjadi penulis.
Dengan demikian guru yang sukses adalah yang bisa mengantarkan siswa- siswinya sukses.
Kesuksesan yang hakiki adalah sukses di dunia hingga di akhirat kelak. Aamiin YRA.
Subang, 231021
Luar biasa. Keluarga guru juara, menghasilkan murid juara.
BalasHapusTerima kasih Ibu ats apresiasinya. Sukses sllu juga buat Ibu.Aamiin YRA.
HapusKerrenn...semangat terus kakak...!!
BalasHapusSemoga keberkahan untuk keluarga besar Rd. Widura juga semuanys..aamiin 🤲🤲🥰🥰
Terima kasih buat adikku yg baik dan pintar, ats apresiasi dn do'anya, buat kita semua. Semangat!!!
HapusLuar biasa ....bagus narasinya, apik Bu say
BalasHapusTerima kasih banyak ats apresiasi, dn supportnya.
Hapusguru itu ditiru dan digugu.
BalasHapuscontoh tauladan bagi murid adalah habituasi dari guru itu sendiri.
tugas kita hanya terus memperbaiki dengan niat karena Allah namun hasilnya mari kita serahkan kepadany juga.
ingat setiap usaha pasti akan ada hasilnya.
salam guru literasi.
Benar sekali.Terima kasih sudah berbagi. Salam literasi juga.
BalasHapus